Cerita Sex Wanita Simpanan Berawal Dari Sosial media

Cerita Sex Dokter Centil Doyan Ngentot

arsya merupakan gadis yg saya kenal melalui suatu sosmed. Didalam album foto Marsya aku  melihat tubuhnya sangat molek sekali. Umurnya masih belia, skitar 24 tahunan, dia bertempat tinggal di makasar. Namun tubuh Marsya sangat molek sekali. Pada album foto Marsya saya meilhat banyak foto-foto syur, foto Marsya waktu dipantai yg hanya mengunakan BH serta celana dalam saja, foto Marsya yg habis mandi serta hanya memakai epilog handuk saja, serta ada satu yang sangat aduhai seklai, Marsya berfoto bugil berasal depan cermin, tetapi Marsya membalikkan tubuhnya sebagai akibatnya yang terlihat hanya tubuh bugik bagian belakang Marsya saja. Melihat koleksi album foto Marsya ereksi Sex ku eksklusif naik serta saya langsung menghubungi Marsya melalui email yg saya dapay berasal profil sosmed Marsya.

Didalam email yg saya kirim kepada Marsya aku  memuji kecanMarsyan dan  kemolekan tubuh Marsya. Serta selesainya 2 hari emailku pada Marsya baru dibalas serta Marsya mengucapkan terimakasih atas pujianku. Dengan tanggapan baik dari Marsya, lantas aku  langsung meminta nomer telpon Marsya. Balasan emailku itu pun jua tidak pribadi dibalas sang Marsya, sebagai akibatnya membuatku penasaran. Namun jarak kita yg sangat jauh tidak mungkin aku  pribadi menemuinya, karena saya dijakarta dan  Marsya berada dimakasar. Smbil menunggu balasan email asal Marsya, disela-sela pekerjaanku aku  terus melihat-lihat album foto Marsya, yg semakin lama   aku  melihatnya semakin bahenol dan  membentuk Penisku eksklusif tegang. Cerita Sex teranyar

sesudah 3 jam saya menunggu balasan asal Marsya akhirnya dibalas pula, dia menyampaikan nomer HP nya menggunakan emot mengedipkan mata. Saya semakin tertarik dengan balasan email Marsya tersebut serta aku  pribadi menelponnya. Ditelponku Marsya menyambutnya dengan baik, terdengar suaranya yg sangat merdu sekali, halus dan  aku  berpikir berasal suara yg merdu, halus dan  seksi ini pasti orangnya pula sama seperti yang difoto yang tiyap hari saya lihat. Saat itu aku  menelponnya kurang lebih satu jam, sebab Marsya sendiri orangnya juga lezat diajak ngomong. Satu hari itu saya mampu pribadi akrab menggunakan Marsya, dan  mampu langsung mendapatkan simpati asal Marsya, sebab saya mengeluarkan semua jurusku. Karena aku  yg telah beristri, saat dirumah aku  hanya mampu sms’an saja menggunakan Marsya, dan  Marsya jua selalu membalas sms’ku dengan mesra. Semakin hari saya semakin tidak kuasa dan  saya berniat buat mengunjunginya di makasar. Cerita Sex

Setalah saya berkata niatku pada Marsya untuk mengunjunginya kepada Marsya, Marsya jua senang mendengar niatku tadi serta Marsya jua berjanji akan menyampaikan yang terbaik kepadaku ketika saya di makasar. Janji Marsya membuatku semakin bersemangat serta tak kuasa buat segera pulang kemakasar. Lalu aku  meminta perlop pada atasanku selama seminggu, serta atasanku memberikan ijin karena aku  sudah lebih kurang 3 tahun bekerja. Sementara saya ngomong kepada istriku bila saya ditugaskan sang tempat kerja ke makasar selama seminggu untuk mengurus urusan perusahaan, sebagai akibatnya membuat istriku tidak curiga sama sekali. Serta keesokan harinya sehabis saya ijin, aku  langsung pulang kebandara buat menuju makasar.

setelah satu jam bepergian, akhirnya saya hingga dibandara dan  saya langsung naik taksi menuju keterminal, karena Marsya berjanji buat menjemputku di terminal. Kurang lebih 20m saya bolak balik  berasal pelataran paling bawah ke pelataran paling atas pada terminal itu,  bahkan hampir seluruh warung serta kawasan duduk-duduk para penumpang bis saya intip tanpa ada rasa segan,  meskipun saya permanen relatif malu bila-bila ada penumpang asal kotaku asalku yg mengenal dan  memperhatikanku,  yg mampu saja melaporkan sikapku itu pada isAstriastutiku nanti.  Sehabis capek keliling,  akhirnya saya putuskan buat masuk wartel lalu menghubungi HPnya,  sebab lewat emailku sebelumnya aku  telah berpesan agar tidak dimaMarsyan HP nya hari itu. “Halo,  Marsya yah  di mana kamu sekarang  aku  ini ada di terminal mencarimu semenjak tersebut” demikian kata aku  melalui telepon. “Halo,  betul ini Marsya.  Aku  ada di kampus kini   lagi makan siang ama teman-teman pada warung kampus nih.  Tunggu aja di situ yah,  saya akan segera meluncur ke sana,  tapi tepatnya engkau  nunggu di mana yah ” itulah jawaban Marsya waktu itu seolah memberikan keseriusannya mau ketemu denganku. “Oke sayang,  aku  akan setia menunggumu pada depan wartel belakang pos pungutan masuk,  sudah ngga tahan nih mau ketemu denganmu” demikian jawaban singkat aku  saat itu.

Hampir setiap kendaraan beroda empat,  terutama petek-petek dan  taxi kuamati isinya dan  penumpang yang turun jikalau-jika ia naik tunggangan itu,  meskipun sekali waktu jg kuperhaMarsyan motor yg lewat jangan hingga ia naik motor.  Hanya pada saat lebih kurang 20 mnt lalu,  saya tiba-tiba mendengar suara panggilan asal sebelah kiri di mana saya duduk dengan sedikit tertahan,  “Halo-halo,  eh-eh, ” ternyata suara itu ialah dari asal seseorang gadis belia yg sedang menjinjing tas mahasiswa,  yang nampaknya diarahkan padaku.  Akupun segera berbalik ke arahnya,  tetapi beliau segera berjalan berputar pada samping mobil yang ada di belakangku.  Walaupun sedikit ragu,  akan tetapi keyakinanku lebih akbar menyangsikan jika wanita itu artinya Marsya yang semenjak tersebut saya tunggu,  aku  cari dan  aku  idam-idamkan selama ini.

sembari mengikuti langkah kakinya,  getaran jantungku semakin dag dig dug,  dan  datang-datang dia membalikkan wajahnya sebagai akibatnya kami berhadap-hadapan dan  saling menatap sejenak di tengah-tengah keramaian penumpang yg terdapat di terminal itu,  hanya 30 centimeter jaraknya. “kamu Aidit khan” pungkasnya menggunakan bunyi yang lembut. “Yah,  dan  engkau  Marsya khan” aku  balik  bertanya menggunakan mengarahkan telunjukku pada wajahnya sembari kami tersenyum. Entah apa yg bergejolak pada pikirannya ketika itu,  tapi yg kentara aku  cita rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya,  laba  segera kusadari jikalau tempat ini dihuni oleh banyak orang,  yg tak mustahil terdapat yg mengenal kami.  Tanpa banyak basa basi lagi,  dia segera naik kendaraan beroda empat petek-petek serta akupun segera mengikutinya bagaikan kerbau yg dicocok hidungnya.  Di dalam kendaraan beroda empat,  kami banyak mengungkapkan soal ketidak percayaan kami atas pertemuan ini,  bahkan pengakuannya ia sedikit relatif kesal serta hampir putus asa menunggu sejak pukul 10. 00 pagi tersebut di terminal sesuai info yang telah kusampaikan,  namun aku  berkali-kali minta maaf atas keterlambatan datang pada terminal kendaraan beroda empat yg kutumpangi itu.

Dari dua kali pindah petek-petek menuju wisma yg telah beliau janjikan dalam emailnya,  kami tak pernah kehabisan bahan bicara,  bahkan kami duduk sangat kedap,  sehingga anginpun sulit melewati perantaraan duduk kami.  Tubuh kami seolah melengket gunakan lem tanpa terdapat perasaan memalukan sedikit pun berasal penumpang lainnya.  Pada hati aku  biar   mereka memperhatikan kami toh mereka tidak mengenal kami.  Kami bagaikan suami isteri yg baru ketemu sesudah sekian lamanya berpisah.  Betul-benar  saling melepaskan kerin2n.  Sekitar 30 m dari wisma yang kami tuju,  Marsya tiba-tiba menghenMarsyan mobil lalu turun serta akupun mengikutinya.  Maklum saya belum banyak kenal kota Makassar.  Meskipun saya tetap selalu berusaha buat membayar sewa petek-petek setiap turun,  akan tetapi selalu saja Marsya mendahuluiku atau saya kalah cepat membayarnya.  Menjadi seseorang laki-laki ,  akupun merasa berat serta memalukan,  akan tetapi Marsya nampaknya benar -benar  mau mengambarkan janjinya buat menyampaikan layanan 100% Bila aku  tiba menemuinya pada Makassar.

planning rendezvous kami pada kota Makassar betul-benar  sudah sangat matang,  sebab kami sudah membeberkan kelemahan serta keterbatasan kami masing-masing lewat email,  namun kami tetap saling berjanji akan menerima apa adanya,  yang penting tujuan kami hanya satu yaitu saling memberi kepuasan sex sesuai kemampuan serta pengalaman serta asa kami masing-masing. Pekerjaan,  keuangan dan  penampilan, bahkan usia,  kami sudah sepakat buat tidak mempersoalkannya. Demikian seriusnya Marsya mau menyenangkan diriku, sehingga dia siap membantu membayar sewa kamar wismanya dan  siap menyampaikan tubuhnya sepenuh hati buatku dan  mengorbankan perasaannya demi kebahagiaanku nanti.  Bahkan kami telah janjian untuk saling menjilati kemaluan serta mencukur bulunya sebelum rendezvous,  sampai-sampai beliau memberitahukan jadwal tamu bulanannya supaya kedatanganku nanti tidak bertepatan agar dia dpt melayaniku 100%. Sebelum kami masuk wisma tersebut, Marsya menyempatkan diri membeli aqua besar  buat keperluan pada kamar nanti.  Entah buat minum atau apa saja yang membutuhkan air. Sesudah membayarnya, Marsya meminta saya membawa air itu serta apapaun cita rasanya diperintahkan sang Marsya waktu itu sempurna kuturuti karena keseriusannya melayaniku,  padahal Marsya ialah seseorang gadis muda,  mulus,  berkulit putih serta menggairahkan bagiku, apalagi seseorang mahasiswi. Sementara saya termasuk telah setengah baya yang berkulit hitam serta keriput,  punya istri dan  3 orang anak lagi. Siapa tidak bahagia dan  mangga berteman, apalagi bercinta menggunakan wanita mirip Marsya itu yg tulus berkorban buat kesenangan saya.

“Tik,  apa wisma ini cukup safety buat kita  dan  apa selama ini ngga sering-acapkali dirazia sang petugas ” tanya aku  pada Marsya saat kami barengan masuk pintu wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya. “Ngga taulah,  karena baru satu kali aku  ke sini sewaktu pacarku membawaku menggunakan tujuan yang sama sampai saya tahu kawasan ini,  dan  itupun telah usang” jawabnya sambil menceritakan soal insiden persenggamaannya dengan pacarnya tempo hari di wisma tersebut. “mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yang kita khawatirkan” ucapnya lebih lanjut. Selesai kami lihat tarif dan  kamar yang kosong pada serlembar kertas di atas meja pelayanannya,  Marsya pun membuka dompetnya serta aku  usulkan buat gabung saja biar   lebih ringan pembayarannya.  Waktu itu,  kami membayar Rp. 100.000 buat 8 jam,  karena nampaknya kamar lainnya penuh seluruh,  dan  kupikir 8 jam itu cukup usang buat kami yang tidak planning menginap. Mampu kami selesaikan beberapa ronde.

Tepat pada jam dua siang,  kami telah masuk di wisma yg tidak perlu aku  sebutkan namanya itu.  Selesainya kami bayar,  kami lalu naik ke lantai 2 mengikuti petugas wisma dan  masuk ke sebuah kamar yang dilengkapi menggunakan air minum, kamar kecil, TV color 14 inc serta sprinbad yg cukup besar  ukurannya.  Sesudah petugas keluar berasal kamar,  tinggallah kami ber2 pada kamar.  Marsya menutup dan  mengunci kedap pintu kamarnya kemudian menutup semua gorden,  kemudian masuk sebentar ke kamar mungil kemudian berbaring pada atas rosban menggunakan pakaian masih lengkap.  Sedangkan saya terlebih jg lebih dahulu masuk kamar mungil buat buang air,  lalu ikut berbaring disamping Marsya.  Sambil berbaring menggunakan pakaian masih lengkap,  kami bincang- bicang serta saling mengutarakan rasa kerin2n kami selama ini.  Tanpa saya sadar,  tangan kananku telah memeluk tubuh Marsya serta Marsyapun tampaknya tidak segan-segan lagi membalas pelukanku,  sebagai akibatnya kami saling berpelukan pada keadaan berbaring menyamping. “saya sangat merindukanmu sayang,  ingin sekali memelukmu” ucapanku sedikit berbisik keMarsya paras kami sudah saling menyentuh sebagai akibatnya napas kami telah saling beradu. “saya jg sangat rindu padamu suamiku,  ayo kita lepaskan kerin2n kita” jawabnya sambil memasukkan lidahnya dalam mulutku,  sehingga kami saling mengisap,  saling bergumul dan  memainkan pengecap pada ekspresi kami masing-masing.

Permainan verbal dan  pengecap kami berlangsung semakin kedap serta relatif lama  ,  sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap.  Bahkan saya lupa mandi sinkron konvensi kami semula keMarsya kami saling berhadap-hadapan di kawasan tidur itu.  Demikian serunya permainan mulut kami,  sebagai akibatnya tidak ingin cita rasanya terdapat istirahat sejenak serta melewatkan kesempatan sedetikpun dalam kamar itu mumpung masih sempat. Sembari bermain pengecap,  saya mencoba memasukkan tangan kananku ke pada baju kain Marsya sampai masuk ke dalam BH-nya yang ukurannya relatif sederhana.  Menjadi seorang gadis yg jam terbangnya dalam global sex masih relatif terbatas Jika dibanding menggunakan jam terbangku,  tentu ia tidak tahan usang dipermainkan payudaranya,  apalagi aku  remas-remas ke 2 payudaranya menggunakan lembut dan  sekali waktu menindis-nindis putingnya yg mulai mengeras dan  menonjol itu.

Beliau tak bisa lagi sembunyikan kenikmatan yg ia rasakan serta terasa beliau mulai terangsang,  yg sangat kedengaran berasal suaranya yg mengerang-erang kecil.  Utungnya tidak ada orang yg dekat menggunakan kamar itu,  karena memang kamar itu berada dibagian paling depan dan  disudut wisma sebagai akibatnya kami leluasa bersuara agak keras menjadi indikasi kenikmatan yang kami alami. “Ngga mau mandi dulu Kak ” katanya mengingatkanku,  karena kebetulan saya keringatan akibat bepergian jauh berasal daerah tersebut. “Nantilah,  setelah kita bermain-main dulu,  biar   kita lebih lama   bercumbu rayu” jawabku sambil tetap memainkan lidah ke pada mulutnya dan  meremas-remas teteknya yang montok itu. Tetapi sebab ia nampaknya sudah sangat terangsang,  ia tiba-datang melepaskan pelukannya serta mengeluarkan lidahku dari pada mulutnya lalu duduk sembari satu demi satu beliau buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya.  Aku  hanya mampu menatap indahnya tubuh seorang gadis mahasiswi.  Mulus serta putih,  namun sedikit agak gemuk sebanding menggunakan gemuk tubuhku,  meskipun dia sedikit pendek berasal berukuran badanku.  Rona kulit kami sangat perbedaan nyata  sebab kulitnya putih sementara kulitku agak hitam.

Selesainya ia melepaskan baju kain yg dikenakannya,  beliau lalu pulang berbaring.  Akupun melepaskan baju lengan panjang yang kukenakan seperti halnya pagawai kantoran saja.  Kami kembali berpelukan serta bergumul pada atas kasur yg empuk.  Kali ini aku  menindihnya meskipun beliau masih mengenakan BH rona putih,  sementara saya masih mengenakan baju dalam.  Tetapi hal itu tidak hingga bertahan lama  ,  sebab saya tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam BH nya,  sebagai akibatnya aku  lepaskan kaitnya berasal belakang lalu meremas-remas secara bebas dengan ke2 tanganku,  bahkan segera kujilati dan  mengisap-isap putingnya yg agak bulat dan  sedikit membesar.  Sehingga dia kegirangan seolah ingin teriak keMarsya aku  maju mundurkan mulutku pada putingnya,  yang kedengaran bunyinya dampak air liurku yg membasahinya. Tanpa aba-aba berasal Marsya,  sayapun segera merosot rok panjang yang dikenakannya,  lalu kugigit-gigit serta kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar celana dalamnya.

asal luarnya menggambarkan jika daging yg terbungkus celana dalamnya itu sangat montok dan  kenyal dan  sedikit mulai basah.  Aku  tidak mampu lagi bertahan menjilatinya asal luar,  sebagai akibatnya aku  segera saja menariknya keluar lewat ke2 kakinya.  Ternyata dugaanku sahih,  pada antara selangkangan Marsya terdpt seonggok daging yang cukup empuk menggunakan tonjolan daging kecil antara ke2 belahannya Nampah warnanya agak kemerahan dan  kulit disekelilingnya jg berwarna putih seolah baru saja dicukur bulu-bulunya sinkron permintaanku pada emailku sebelum rendezvous.  Sekarang Marsya pada keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan ke2 paha yg menjepit daging empuk itu.

Tanpa saya tatap usang-lama  ,  aku  segera menjulurkan lidahku menelusuri daging empuk yg terbelah dua itu.  Nampaknya aku  tidak terlalu sulit masukkan lidah ke lubang tengahnya itu,  sebab memang telah beberapa kali ditusuk serta dimasuki benda tumpul alias Penis sebelum kami sebagaimana pengakuannya lebih dahulu padaku lewat emailnya bahwa dia sudah beberapa kali berhubungan sex menggunakan pacarnya,  namun tidak hingga memuaskannya.  Semakin lama   semakin kupercepat gocokan lidahku kedalam memeknya sebagai akibatnya mengeluarkan suara seperti kucing yg menjilat air.  Marsya semakin histeris serta menggerak-gerakkan pinggulnya serta beliau mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya sampai ujungnya bersentuhan dengan bahunya sembari tetap merenggangkannya.

Aku  semakin leluasa memasukkan lidahku lebih pada dan  memutar-mutarnya sehingga terasa memek Marsya semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang memeknya. “Aduh. .  Kak. .  Lezat sekali Kak. .  Terus Kak. .  Aahh. .  Uhh. .  Mm. . ” hanya bunyi itulah yang berulang-ulang keluar asal ekspresi Marsya keMarsya aku  menggerak-gerakkan ujung lidahku pada lubang memeknya. “engkau  merasa lezat sayang  Bagaimana kini    saya masukkan saja ” pertanyaan aku  sambil kupermainkan lidahku dalam lubangnya. Auh. .  Hee,  ohh. .  Ehh. .  Mm. . ” suara itu semakin menaikkan rangsanganku sehingga akhirnya aku  secara berturut-turut membuka celanaku satu demi satu menggunakan dibantu oleh Marsya sampai tubuhku telah telanjang bulat.

Kini   kami saling bugil dan  saya sedikit mundur persis pada belakang pantatnya sambil berlutut serta mengarahkan ujung Penisku di memek Marsya yg sudah basah dan  sedikit terbuka itu.  Sebelum saya sempat menusukkan ujung penisku ke lubang memek Marsya,  Marsya terlebih dahulu meremas dan  mengocok-gocok dengan tangannya sebagai akibatnya aku  semakin tidak tahan lagi bermain-main di luar.  Kini   senti demi senti kudorong ke depan hingga ujung kemaluanku pas tertuju di lubang kemaluannya.  Marsya hanya membantu dengan kedua tangannya membuka ke 2 bibir memeknya itu,  sebagai akibatnya Penisku dpt menembus lubang memeknya menggunakan simpel.  Aku  mengangkat tinggi-tinggi ke2 kakinya sampai ujungnya berada pada atas ke 2 bahuku.  Kurasakan Penisku masuk menyelusup ke dalam memeknya Marsya tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas.  Marsya semakin mengerang serta napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya.  Suara dan  napas kamipun saling memburuh,  sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat.  AC pada kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya.

Marsya menarik pinggulku menggunakan keras serta akupun menekan Penisku ke dalam memeknya jg dengan keras sehingga pera2n antara Penisku dengan memeknya semakin pada dan  kencang.  Genjotan Penisku semakin kupercepat hingga-hingga peraduan paha kami mengakibatkan bunyi relatif akbar.  Kami sempat memperhaMarsyan gerakan-gerakan kami itu di cermin akbar yang ada di samping daerah tidur,  yang diselingi menggunakan bunyi TV 14 inch yang sengaja kami keraskan suaranya agar tidak hingga orang curiga atas perbuatan kami dalam kamar. Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur,  sehingga terasa tubuh kami saling lengket.  Marsya nampaknya tidak puas menggunakan posisi pada bawah,  diapun segera mengeluarkan Penisku asal dalam Memeknya kemudian merobah posisi.

beliau menggunakan sigapnya mengangkangiku lalu memasukkan kembali Penisku dalam Memeknya lalu beliau dengan cepatnya menggerakkan pinggulnya ke arah kiri serta ke kenan,  ke bawah serta ke atas,  sehingga saya semakin sulit menunda lahar hangat yg tertampung pada penisku.  Bahkan beliau memperlihatkan padaku buat membalikan tubuhnya membelakangi wajahku agar dia dpt menggunakan kentara mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin,  tetapi aku  menahannya agar tidak mengeluarkan lagi Penisku dari pada Memeknya karena terasa saya telah sangat mendesak ingin muncratkan spermaku. Mungkin efek capek habis naik mobil berasal jauh barusan,  sebagai akibatnya saya betul-benar  kecapean dan  sulit lagi mempertahankan gejolak sperma yang memaksa ingin keluar.  Tanpa seizin Marsya,  spermaku kutumpahkan dalam Memeknya meskipun saya masih terus memompa memek Marsya berasal bawah dan  mengikuti gerakan Marsya sampai benar -betul Penisku keluar menggunakan sendirinya karena kehabisan cairan serta energi.  “Istirahat aja dulu Kak bila capek,  saya ngerti kok kakak ini terlalu capek habis naik kendaraan hampir seharian” istilah Marsya dengan bijaksana sembari turun berasal atasku lalu berbaring pada sampingku.

Dia nampaknya tidak kecewa dan  relatif mengerti atas keadaanku,  sebab masih poly kesempatan buat mengulangi permainan kami sebentar.  Apalagi sebelum kami melakukan semua itu,  dia pernah berjanji akan memuaskanku serta ia tidak bakal kecewa atas keterbatasanku serta tidak terlalu menuntut untuk dipuaskan Bila saya tidak bisa. Mendengar kata-istilah Marsya itu,  aku  merasa malu serta tidak tau harus berbuat apa,  karena janji yg pernah kuucapkan pada emailku buat memuaskannya,  ternyata tidak mudah aku  jadikan fenomena.  Entah,  apa aku  yg terlalu lemah serta loyo atau Marsya yg terlalu bertenaga serta tak simpel mencapai zenit kenikmatan seperti yg pernah disampaikanku lewat email bahwa sudah beberapa kali ia bersetubuh dengan pacarnya akan tetapi dia tidak pernah mencicipi puncak  kenikmatan sex.  Apalagi usiaku jauh lebih tua di atas 10 tahun dari usianya,  sehingga seharusnya saya perlu obat penambah kekuatan serta daya tahan buat mengimbanginya.

Tetapi aku  terlalu ceroboh serta kurang memperhitungkannya,  sebagai akibatnya aku  terpaksa KO lebih awal sebelum ia ada tanda-tanda akan puas.  Saya terlalu mengandalkan pengalamanku yang memiliki jam terbang lebih banyak dari dia,  apalagi selama ini hampir semua perempuan   yg kusetubuhi merasa KO lebih dulu karena kemampuanku pada merangsang. “Maaf yah sayang,  aku  terlalu capek berasal daerah,  seharusnya istirahat lebih dulu sebelum kita berperang pada atas kasur ini” istilah aku  buat memberi alasan agar ia tidak putus harapan. “Nga apa-apa kok Kak,  saya khan tidak terlalu berharap asal Kak buat dipuaskan,  sebab aku  hanya mau melihat abang puas dan  bahagia bersamaku apalagi aku  memang tidak praktis mencapai kepuasan sex Kak” jawabnya menggunakan sedikit tersenyum tanpa ada rasa kecewa sedikitpun diwajahnya. “saudara tertua janji,  ronde ke 2 nanti,  akan kuusahakan agar saudara termuda bisa jua mencicipi nikmatnya Sex.  Saya memalukan serta tidak mau dikatakan hanya mementingkan diri sendiri,  apalagi pasti akan membentuk kenangan buruh dihati adik sepanjang masa,  kita istirahat sejenak aja dulu Dik” begitulah ucapan saya di Marsya mencoba memberi asa yg besar .

setelah aku  ke kamar mandi membersihkan kemaluanku,  aku  kembali berbaring disamping Marsya serta berusaha merayu,  memeluk serta mencium bibir serta keningnya dan  mengelus-elus puting susunya.  Tiba-tiba aku  teringat pada vitamin yang sengaja kubawa dari wilayah menjadi obat yang dpt mengembalikan kondisi tubuh,  khususnya bagi yg berusia lanjut.  Saya bangkit dari daerah tidurku,  lalu menelannya dua biji,  lalu kembali berpelukan menggunakan Marsya pada atas kasur empuk itu.  Ternyata tidak sia-sia,  hanya pada beberapa menit saja,  Penis aku  mulai terasa mengeras pulang,  apalagi selesainya dipegang-pegang sang Marsya. “yuk,  kita mulai lagi” kataku sambil tersenyum di Marsya. “Apa saudara tertua telah siap lagi  Istirahat aja dulu sebentar Kak,  waktu kita masih ada beberapa jam lagi pada wisma ini” ucapnya seolah tidak mau memaksa kemampuanku.

Sambil mengatakan begitu,  Marsya mulai meremas-remas Penisku dan  nampaknya ia jg sangat menginginkan hal itu.  Marsya segera bangun serta kembali mengangkangi tubuhku lalu mencoba memasukkan Penisku ke dalam memeknya yang masih basah karena belum dicuci.  Ia sengaja saya minta supaya lebih aktif asal saya,  karena saya masih agak kecapean.  Penisku yang sudah mengeras kembali itu tidak terlalu sulit dimasukkan sampai seluruhnya amblas ke pada lubang memeknya.  Marsyapun mulai menggenjot terus dan  pulang mengakibatkan suara spesial  ,  bahkan kali ini beliau berbalik membelakangi wajahku sehingga ia tertawa mungil melihat gerakannya pada cermin pada sudut kamar itu.  Sehabis dia puas memandangi posisi kami,  Marsya lalu turun dan  mencoba nungging di depan saya.  Sayapun mengerti maksudnya.  Berkali-kali saya arahkan ujung penisku pada memeknya yg agak sedikit menganga berasal belakang,  tapi selalu saja mengenai lubang duburnya,  sebagai akibatnya ia menegurku sebab merasa kesakitan.

Mungkin Marsya atau saya yang kurang cocok dengan posisi itu,  sehingga kami tidak jadi menerapkan posisi nungging itu,  melainkan Marsya kuminta berbaring terlentang lalu saya pulang menindihnya serta memasukkan Penisku dengan mudah lalu menggenjotnya dengan lebih keras dan  cepat.  Kali ini berlangsung agak usang daripada ronde pertama tersebut. “Ngomong ya Kak Bila kau mau muncrat supaya aku  tahu” katanya berbisik. “Yah sayang,  tapi masih jauh cita rasanya” jawabku singkat. Peluh kami mulai bercucuran serta basah sekali sekujur tubuh kami.  Walaupun aku  sudah berusaha menahan spermaku buat tidak terlalu cepat keluarnya,  namun tetap saja Marsya belum terdapat gejala akan mencapai puncaknya. “Auh. .  Iihh. .  Eehh. .  Aahh. .  Uuhh. . ” itulah bunyi-bunyi yang menyertai gerakan pinggul Marsya saat saya semakin mempercepat gerakan pantatku menekan pnisku masuk lebih dalam lagi.  Sementara saya permanen berusaha buat tidak mengeluarkan suara meskipun saya mencicipi suatu kenikmatan yang luar biasa dibanding aku  bersetubuh menggunakan isAstriastutiku. “Bagaimana sayang,  masih jauh  aku  sudah mulai mau keluar nih,  nga apa-apa khan saya keluarkan pada pada saja ” kataku berterus terang. “Silakan Kak,  aku  telah makan obat pengaman,  ngga bakalan hamil kok,  ibuku khan bidan,  jadi praktis kudptkan obat mirip itu” katanya meyakinkanku.

Tidak seberapa lama   kemudian,  akupun muncrat pada Memeknya serta kali ini Marsya merasakannya dengan denyutan Penisku.  Saya tetap berusaha menahan Penisku pada memeknya,  sehingga dia merasa hampir mencapai puncaknya. “Kak,  kayaknya saya sudah mau keluar nihh,  auhh,  mm. .  Hh” ucapnya sembari terengah-engah dan  bersuara agak keras. “Bagaimana,  telah hampir sayang  aku  capek sekali nih” kataku terus jelas mengalah,  karena Penisku telah mulai loyo serta kehabisan tenaga sehingga sulit sekali bertahan di pada. Penisku menggunakan sendirinya keluar dari dalam memek Marsya,  sebagai akibatnya kamipun berhenti bergoyang,  nampun Marsya permanen tidak menunjukkan kekecewaan serta putus harapan pada wajahnya. “aku  sudah merasa sedikit lebih puas asal ronde pertama tersebut atau mungkin tadi aku  udah muncrat akan tetapi aku  ngga mengetahuinya” demikian pungkasnya seolah senang  serta senang atas pertarungan kami pada ronde ke-dua. “Kita masih punya saat sekitar 3 jam lagi di kamar ini sayang,  praktis-mudahan kita masih bisa lanjutkan ke ronde yg ke 3,  kita habiskan saja semua residu-sisa  kemampuan kita pada kawasan ini,  karena kapan lagi kita dpt kesempatan mirip ini” kataku penuh harap. “jikalau sudah capek serta nga bisa lagi Kak,  ngga usah diteruskan dan  dipaksakan,  khan telah sama-sama kita mencicipi suatu kenikmatan yang cukup,  nanti lain kali aja kita mampu lakukan,  saya selalu siap kok kapan aja kakak mau dari beritahu lebih dulu” istilah Marsya menggunakan santun dan  penuh penghormatan serta afeksi padaku,  sehingga saya merasa tidak enak serta berat padanya.

Kali ini,  saya kembali ke kamar mandi membersihkan penis aku  yg berlepotan menggunakan sperma,  dan  Marsyapun menyusul,  kemudian kami sama-sama mengenakan celana pada kemudian berbaring sambil berpelukan,  bermesraan,  bahkan aku  berusaha terus merangsangnya,  terutama di bagian payudaranya dengan mengisap-isap putingnya serta meremas-remasnya serta mengecup pipinya.  Kami saling bercanda serta bersenda gurau layaknya suami isAstriastuti yang seolah tidak ada beban dan  ketakutan sama-sekali.  Cukup usang kami bermain-main di atas kawasan tidur itu tanpa pakaian kecuali celana pada.  Sekali waktu Marsya menyentuh penisku dan  meremas-remasnya dari luar celana pada,  sedang saya jg menyentuh dan  mengelus-elus Memeknya. “Kak,  istirahat saja dan  tidurlah,  biar   lebih segar perasaannya,  saya cita rasanya ngga capek dan  nga ngantuk” ucapnya merayuku berkali-kali agar aku  berusaha tidur.  Akan tetapi saya selalu takut kalau-jikalau dia meninggalkan aku  sendirian pada kamar itu,  sebagai akibatnya mataku jg tidak mau tertidur apalagi sulit lagi kami dptkan kesempatan emas seperti ini.

Entah pengaruh asal mana,  tapi yg jelas datang-tiba Penisku balik  tegang serta berkecimpung-gerak pada celana dalamku,  sebagai akibatnya dirasakan juga oleh Marsya yg sedang berbaring pada bagian bawah perutku.  Mungkin akibat vitamin yg kutelan tadi atau karena senda gurau kami yang terlalu asyik.  Marsya datang-tiba bangkit dan  duduk di sampingku sembari tertawa. “Wah,  ternyata bangun lagi Kak,  apa abang masih siap melanjutkannya buat ronde yg terakhir sebelum kita keluar asal wisma ini kak ” tanyanya dengan tersenyum serta nampak dia gembira melihat reaksi itu. “Boleh saja,  akan tetapi isap dulu donk biar   lebih keras serta mengembang lagi agar dpt bertahan lebih lama  ” jawabku dan  meminta dia lebih aktif. “Ayolah,  ayo kita coba mulai” pungkasnya terburu-buru sembari membuka celana dalamku dalam keadaan aku  tetap terlentang.  Hangat dan  nikmat sekali. “Ahh. .  Usst. .  Oohh. .  Aduhh. .  Eenakk sekali sayang. . ” begitulah eranganku berkali-kali keMarsya Marsya meraih dan  memasukkan Penisku ke pada mulutnya lalu menggocok-gocoknya menggunakan mulut. Selesainya saya merasa Penisku relatif keras serta mengembang lagi pada verbal Marsya,  saya dengan segera bangkit dari tidurku kemudian menarik celana dalam Marsya hingga keluar semuanya.  Kali ini saya tarik Marsya berbarik sambil miring sebagai akibatnya kami berhadap-hadapan,  kemudian aku  coba mengangkat satu pahanya ke atas dan  memasukkan pahaku ke pada selangkangannya,  kemudian menusukkan Penisku ke lubang memeknya hingga amblas seluruhnya.

Beberapa mnt kami dalam posisi seperti ini sembari kami menggerak- gerakkan pantat maju mundur,  akupun mengangkat Marsya ke atasku sebagai akibatnya dia menindihku tanpa melepaskan Penisku dari kemaluannya.  Kali ini Marsya dengan keras serta cepatnya menggoyangkan pinggulnya maju mundur serta kiri kanan,  bahkan dia menarik kepalaku ke atas sehingga kami 1/2 duduk kemudian duduk dengan meletakkan ke 2 pahanya pada atas ke 2 pahaku,  kemudian pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong serta menarik.  Kami tidak mengganti lagi posisi sampai kami sama-sama mencapai puncak  kenikmatan,  meskipun aku  yakin Jika Marsya belum mencapai kenikmatan Sex 100%,  tapi ia mengaku telah merasa puas mencicipi kenikmatan Sex yg belum pernah dia alami sebelumnya. Terselesaikan membersihkan badan dan  berpakaian lengkap,  kami saling mengecup dan  ciuman menjadi tanda terima kasih sekaligus perpisahan ad interim sebab aku  mau balik  ke daerah asalku.  Kami berjanji akan mengulangi lagi setiap terdapat kesempatan.

Cerita Sex Terbaru | Cerita Sex Tante | Cerita Sex Sedarah | Cerita Seks | Cerita Sex Bergambar

1855
-
100%
Rates : 1

Leave a Reply